Skip to content
Globe Instagram

Kontak Kami

+6231 298 3052

Email Kami

ikom@petra.ac.id

IKOM UK PETRA
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Modul
  • Kontak Kami
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Modul
  • Kontak Kami
Materi Pembelajaran

Jurnalisme Data

  • Semua Modul
/
  • Modul

Jurnalisme Data

Modul ini akan mempelajari tentang proses jurnalisme data dari pengumpulan data hingga pelaporan dalam jurnalisme data.

Tujuan Modul

Mahasiswa mampu memiliki wawasan dan kompentensi tentang proses jurnalisme data.

Mahasiswa mampu melakukan praktek berhubungan dengan proses jurnalisme data.

Agusly Irawan Aritonang, S.Sos., M.A.

Tentang Modul
  • Materi 6 Modul
  • Durasi 20 Menit
  • Tingkat Pemula
  • Bahasa Indonesia
Materi Modul

Pendahuluan

Pengantar Jurnalisme Data

Proses Pengumpulan Data

Proses Analisis Data

Proses Visualisasi Data

Proses Pelaporan Data

Artikel Jurnalisme Data 1

Artikel Jurnalisme Data 2

Pembahasan Modul

Pendahuluan

Download resources

Pengantar Jurnalisme Data

Download resources

Proses Pengumpulan Data

Download resources

Proses Analisis Data

Download resources

Proses Visualisasi Data

Download resources

Proses Pelaporan Data

Download resources

Artikel Jurnalisme Data 1

Prabowo Subianto Unggul di Mata Generasi Z

“Dua calon itu sudah saya coret!” tegas Prabowo di hadapan para peserta yang datang pada Program Mata Najwa “Tiga Bacapres Bicara Gagasan” (19/09).

Suara tepuk tangan dan sorakan yang riuh memenuhi ruang di Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta. Prabowo Subianto, sang calon presiden itu tersenyum bangga seraya menggoyangkan tangan dan tubuhnya untuk berjoget di hadapan penonton.

Prabowo Subianto kembali mencalonkan diri sebagai calon presiden untuk ketiga kalinya. Menteri Pertahanan periode 2019-2024 ini telah diundang dalam episode “3 Bacapres Bicara Gagasan”. Dalam episode ini, Prabowo dapat membicarakan berbagai gagasan yang ingin dicapai dalam periode mendatang. Namun, terdapat aksi joget gemas yang memikat hati para netizen ketika ia menjawab pertanyaan Najwa Shihab. Hal ini menunjukkan seiring dengan waktu berjalan Prabowo mengubah gayanya mulai dari yang serius pada pencalonan presiden periode 2014 dan periode 2019, menjadi lebih gaul pada pencalonan periode 2024 ini.

Melihat aksi kecil yang dilakukan oleh Prabowo menunjukkan banyak komen positif dari netizen. Dari fenomena ini, dapat dilihat apakah aksi atau perkataan dari calon presiden dapat memiliki efek sendiri terhadap masyarakat. Melalui tayangan video episode “3 Bacapres Bicara Gagasan” tersebut, dapat dilihat bahwa masyarakat memiliki ketertarikan dengan gagasan mereka yang membuat masyarakat condong untuk mendukung salah satu dari 3 calon kandidat tersebut.

Sebuah penelitian terkait bagaimana sikap generasi Z usai menonton video “3 Bacapres Bicara Gagasan” diambil dari generasi Z di Jawa Timur pada November 2023. Data-data yang didapatkan guna untuk mencari tahu terhadap masyarakat memiliki sikap tertentu setelah menonton Bacapres. Masing- masing calon presiden membawakan beberapa gagasan, Prabowo Subianto memberikan 18 gagasan, Anies Baswedan membawakan 5 gagasan, dan Ganjar Pranowo menyatakan 6 gagasan.

Penelitian ini melibatkan 100 responden, dengan jenis kelamin yang ditunjukkan pada grafik berikut.

Dari tabel tersebut dapat terlihat, responden yang mengisi penelitian ini 70% perempuan, dan terdapat 30% laki-laki. Selain itu penelitian ini juga didukung dengan responden yang memiliki rentang usia yang berbeda, seperti pada grafik berikut ini.

Dari grafik tersebut, dapat terlihat responden mayoritas pada rentang usia 22-26 tahun sebanyak 67%. Selain itu, terdapat responden dengan rentang usia 17-21 tahun sebanyak 30%, dan rentang usia 12-16 tahun sebanyak 3%. Tak hanya itu, responden juga memiliki berbagai profesi seperti pada grafik di bawah ini.

Terlihat pada grafik ini, terdapat 31% mahasiswa aktif yang turut membantu dalam penelitian ini. Serta dengan 17% pekerja penuh waktu dan 16% untuk pekerja kontrak.
Berikut di bawah ini merupakan hasil penelitian terkait sikap generasi Z di Jawa Timur terhadap tayangan program “3 Bacapres Bicara Gagasan”.

Video “3 Bacapres Bicara Gagasan”

Prabowo Subianto adalah capres yang memiliki jumlah gagasan terbanyak yaitu 18 gagasan. Dari 18 gagasan tersebut sebanyak 22 responden menyukai Gagasan Pemberantasan Angka Kemiskinan. Alasan responden memilih gagasan tersebut karena banyak masyarakat yang menganggap Indonesia akan lebih sejahtera apabila angka kemiskinan diberantaskan. Namun sampai sekarang angka kemiskinan masih belum diberantaskan. Menurut data BPS, pada Maret 2023 jumlah penduduk miskin terdapat 25,90 juta jiwa. Masyarakat menyukai gagasan tersebut, sebab apabila Prabowo terpilih menjadi Presiden dalam periode ini, mereka berharap perekonomian Indonesia akan semakin baik.

Sedangkan Anies Baswedan memiliki 5 gagasan yang ia bawakan saat “3 Bacapres Bicara Gagasan”. Dari 5 gagasan tersebut, gagasan yang paling disukai oleh masyarakat adalah Gagasan Akses Pendidikan di Indonesia, yang terdapat sebanyak 40 responden memilih gagasan tersebut. Di Indonesia dapat dilihat pada tahun 2021 terdapat 75.303 anak yang putus sekolah, baik di tingkat SD, SMP, SMK, dan SMA (databoks). Dengan situasi ini, masyarakat berharap apabila Anies Baswedan terpilih menjadi Presiden periode 2024, ia akan berusaha memperbaiki edukasi di Indonesia. Sebelumnya, Anies Baswedan masuk dalam jajaran rektor termuda di Indonesia. Selain itu, ia juga mendirikan program Indonesia Mengajar untuk mendorong kualitas pendidikan di Indonesia. Pada tahun 2014 sampai 2016, Anies menjabat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, melihat perjalanan Anies untuk menjunjung pendidikan Indonesia. Masyarakat merasa yakin apabila Anies Baswedan terpilih ia akan meningkatkan pendidikan di Indonesia, karena Anies Baswedan sendiri merupakan seseorang yang peka dengan pendidikan di Indonesia.

Ganjar Pranowo membawakan 6 gagasan pada program “3 Bacapres Bicara Gagasan”. Dari 6 gagasan tersebut, Gagasan Pendidikan dan Kesehatan Indonesia adalah gagasan yang paling disukai oleh

masyarakat. Terdapat 28 responden yang memilih gagasan tersebut karena semakin bagusnya pendidikan dan kesehatan adalah dua hal yang berkaitan untuk membuat masyarakat lebih berkualitas.
Untuk kedua kalinya, Ganjar menjadi Gubernur Jawa Tengah mulai dari tahun 2018-2023, dalam periode tersebut terdapat program yang berhasil dilakukan oleh Ganjar. Beberapa di antaranya yaitu Program Kesehatan dan Kesejahteraan Masyarakat, Program Peningkatan Kualitas Pendidikan. Kedua program tersebut termasuk dalam prestasi yang diraih Ganjar semasa menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah (sahabatganjar.com). Hal ini menunjukkan bahwa Ganjar, peduli akan kesehatan dan pendidikan di Indonesia.

Berdasarkan sikap yang diambil oleh generasi Z dalam penelitian ini maka terlihat persentase calon presiden yang ingin dipilih responden.

Setelah masyarakat melihat video “3 Bacapres Bicara Gagasan”, akan terbesit pemikiran “Siapa yang akan saya dukung?”. Melalui data yang diperoleh, menunjukkan masyarakat lebih condong untuk mendukung Prabowo Subianto sebanyak 36%, sementara Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo memiliki 32% masing- masing.

Terlihat Prabowo memiliki dukungan yang lebih banyak daripada calon presiden lainnya. Hal ini dapat disebabkan karena Prabowo mampu melakukan tindakan tegas layaknya mencoret dua koruptor dari kabinet kerjanya. Selain itu, Prabowo juga menunjukkan joget gemas saat membahas materi yang serius. Hal ini sangat menarik perhatian generasi Z, karena Prabowo dapat menyelesaikan masalah dengan tanggap serta gaul terhadap masyarakat.

Download resources

Artikel Jurnalisme Data 2

PEMILU 2024 : MEREBUT SIMPATI, MEMENANGKAN PERSEPSI KALANGAN PEMILIH MUDA

Agusly Irawan Aritonang, Universitas Kristen Petra Surabaya

Valencia Allyn Kheng, Universitas Kristen Petra Surabaya

 

Pemilu merupakan pesta demokrasi untuk memilih anggota legislatif beserta Presiden dan Wakil Presiden. KPU secara resmi sudah mengumumkan bahwa pemilu akan dilaksanakan secara serentak pada 14 Februari 2024. Dari segi waktu, pemilu tinggal 60 hari kedepan (berdasarkan tulisan ini dibuat). Secara tahapan, saat ini proses pemilu sedang berada tahapan kampanye. Tahapan kampanye mulai berjalan sejak 28 November 2023 hingga 10 Februari 2024 nanti. Dilanjutkan dengan masa tenang selama tiga hari, baru kemudian dilakukan proses pemungutan suara pada 14 Februari 2024. Kampanye sendiri merupakan tahapan yang krusial karena tahapan ini merupakan periode bagi para kandidat baik legislatif maupun pasangan capres dan cawapres untuk memperkenalkan profil diri, penajaman program, menampilkan kelebihan dan diferensiasi dibanding kandidat lainnya.

Sebagai sebuah proses politik, pemilu identik dengan perebutan suara pemilih. Pemilu bersifat langsung seperti Indonesia si pemilik suara langsung memberi suara pilihannya dan kalkulasi suara tersebut yang menentukan siapa yang akan menjadi pemenang. Maka, menjadi penting saat ini bagi para kandidat untuk membuat perencanaan yang matang agar para kandidat bisa memenangkan “perang “ perebutan suara ini. Dalam kacamata komunikasi politik, pengenalan siapa audiens (pemilik suara) baik dari sisi demografi dan minat; bagaimana pesan tersebut dikreasikan; media apa yang akan dipilih; dan seberapa dampak dari proses tersebut harus dikalkulasikan secara matang mengingat ini berkaitan dengan tujuan, biaya dan kesiapan logistik dari para kandidat.

Satu kelompok pemilik suara yang menarik untuk digarap saat ini oleh para kandidat capres dan cawapres maupun calon legislatif adalah para pemilih muda. Untuk pemilu 2024 ini, kelompok pemilih muda merupakan kelompok yang secara kuantitas besar jumlahnya. KPU menyebutkan jumlah pemilih muda untuk pemilu 2024 ini sejumlah sebesar 114 juta orang dari 204,8 juta orang yang tercatat sebagai Daftar Pemilih Tetap. Pemilih muda sendiri merupakan pemilih yang berusia di bawah usia 40 tahun. Secara persentase, jumlah pemilih muda lebih dari separuh (tepatnya 55,66 %) total pemilik suara. Artinya secara kuantitas, suara dari kaum pemilih muda sangat menentukan. Selain kuantitas, secara kualitas pemilih muda merupakan kelompok dengan usia produktif baik bekerja maupun masih mengenyam pendidikan. Dengan karakteristik mereka yang seperti itu, pemilih muda merupakan pemilih dengan karakter kritis sekaligus concern utamanya terhadap topik topik yang berkaitan dengan dirinya. Mengingat di usia produktif, maka kaum muda juga penggerak roda bangsa dalam banyak hal mulai dari ekonomi, hingga sosial politik kemasyarakatan.

Merebut Simpati Pemilih Muda

Kaum muda diidentikkan dengan kelompok yang kritis terhadap persoalan persoalan bangsa. Topik seputar ekonomi, sosial politik, demokrasi bahkan isu kesehatan acapkali menjadi bahan perbincangan rutin di kalangan anak muda. Survei secara mandiri dilaksanakan di beberapa provinsi untuk memotret concern dan harapan kaum muda seputar topik yang berkaitan dengan sekitar mereka. Responden dipilih secara purposive dengan rentang usia 18-40 tahun. Responden berasal dari 23 provinsi yang tersebar dari Sumatera, Jawa , Bali, Kalimantan, Sulawesi hingga Nusa Tenggara. Mereka memberikan jawaban atas isu seputar ekonomi, hukum, pendidikan, bahkan demokrasi. Terkait isu apa yang paling penting bagi pemilih muda untuk diperhatikan dalam masa kampanye kandidat, bidang ekonomi menjadi ranah yang paling menarik dibandingkan isu lainnya seperti demokrasi, hukum, pendidikan, maupun kesehatan.

Sumber : Olahan Penulis (2023)

Ekonomi : Lapangan Pekerjaan menjadi Concern utama

Persoalan ekonomi selalu menjadi tema yang menjadi agenda “wajib” dalam debat khususnya capres dan cawapres. Tentu, bagaimana penanganan atas kompleksnya persoalan ekonomi di Indonesia akan sangat menentukan arah peta jalan Bangsa Indonesia bergerak menuju kemakmuran. Bagi pemilih muda, isu upah dan lapangan pekerjaan menjadi isu yang paling penting dengan porsi 38, 75 %. Disusul dengan pembenahan kesenjangan ekonomi di urutan kedua

sebesar 26,25 %. Sedangkan kestabilan harga barang di urutan ketiga sebesar 19,5 %, prospek ekonomi kreatif dengan jumlah 12,25 %. Terakhir, porsi hutang negara Indonesai sebesar 3,25 %. Isu lapangan pekerjaan tentu menjadi perhatian mengingat pemilih muda merupakan pemilih yang berada pada usia produktif kerja sehingga kesempatan dan tawaran untuk jaminan pekerjaan akan selalu diharapkan. Data BPS sendiri per Agustus 2023, jumlah pengangguran di Indonesia menembus angka 7,86 juta orang, meski angka tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun 2022 lalu. Selain itu, karakterisitik pekerja di Indonesia masih didominasi oleh lulusan pendidikan Dasar (SD) dibandingkan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Diploma dan Sarjana. Investasi sering dianggap sebagai jalan keluar untuk mengatasi pengangguran. Dengan banyaknya investasi yang masuk ke Indonesia maka harapannya akan banyak tercipta lapangan pekerjaan yang akan mampu menyerap tenaga kerja. Meskipun investasi sendiri acapkali menimbulkan persoalan juga ketika permasalahan seperti pembebasan lahan, kesulitan izin untuk mendirikan usaha, atau juga iklim investasi yang ingin dibangun sering dianggap merugikan pekerja Indonesia melalui skema upah buruh yang murah.

Sumber : Olahan Penulis (2023)

Demokrasi : Kebebasan berpendapat menjadi topik penting

Topik demokrasi menjadi isu terpenting kedua menurut pemilih muda di Indonesia. Diadakannya pemilu langsung sebagai simbol pelaksanaan demokrasi tidak serta merta menunjukkan bahwa kehidupan berdemokrasi berkualitas pula. Ragam indikator digunakan untuk mengukur indeks demokrasi di sebuah negara. Sebagai contoh, Indeks Demokrasi menurut Economist Intelligence Unit (EIU) diukur dari beberapa faktor seperti proses pemilu dan pluralisme politik, tingkat partisipasi politik masyarakat, budaya politik, tata kelola pemerintahan, dan kebebasan sipil. Pemilih muda Indonesia saat ini berpandangan bahwa kebebasan berpendapat yang dijamin UU menjadi hal yang paling penting untuk dibenahi. Terutama dengan banyaknya kasus persekusi ataupun ancaman kasus hukum bagi orang orang yang dianggap vokal terhadap pemerintah menjadi alasan. Termasuk kehidupan politik yang bebas intervensi dari pihak penguasa. Selain itu banyaknya kasus kasus yang menyulitkan kelompok minoritas baik dari segi agama, suku, hingga wacana seputar pernikahan beda agama yang sempat menghangat belakangan ini juga menjadi perhatian kaum pemilih muda.

Sumber : Olahan Penulis (2023)

Pendidikan : Perhatian atas nasib pekerja bidang pendidikan

Elaborasi seputar tema pendidikan juga menarik dalam kacamata pemilih muda di pemilu 2024. Tiga isu yang harus dibenahi seputar sektor pendidikan antara lain peningkatan kesejahteraan pekerja pendidikan di urutan pertama, tersedianya layanan pendidikan yang memadai dan biaya pendidikan yang terjangkau menjadi urutan ketiga. Asumsinya, dengan pengajar yang sejahtera, tersebarnya secara merata infrastruktur pendidikan di seluruh Indonesia

plus biaya pendidikan yang terjangkau akan mampu meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Jargon guru sebagai “Pahlawan tanpa tanda jasa” hendaknya bukan sebagai alasan untuk tidak memperhatikan kesejahteraan para guru. Kabar soal bagaimana seorang guru honorer yang upahnya masih belum memadai dan dibayarkan beberapa bulan sekali kerap menjadi pemberitaan dimedia. Selainitubiayapendidikanyangtinggiseringdijadikanalasanuntuktidakmelanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Dengan persoalan yang kompleks antara kebutuhan biaya operasional berbanding dengan jumlah mahasiswa yang dihadapi perguruan tinggi misalnya, berdampak pada besarnya biaya perkuliahan yang harus ditanggung oleh peserta didik perguruan tinggi. Meskipun tersedia ragam beasiswa namun ternyata hal tersebut tidak cukup untuk menjembatani jumlah mahasiswa yang bermasalah dengan biaya pendidikan.

Sumber : Olahan Penulis (2023)

Memenangkan Persepsi di Media Sosial

Kaum muda identik dengan media sosial. Ragam data menunjukkan bahwa media sosial menjadi saluran utama bagi pemilih muda untuk mendapatkan informasi. Peran media massa perlahan tergantikan ketika kecanggihan internet dan medium digital melahirkan media sosial yang sangat interaktif. Dibandingkan dengan media massa maupun media online seperti portal berita, media sosial muncul sebagai saluran bagi pemilih muda untuk mendapatkan informasi. Terkait alasan memilih media sosial, pemilih muda mengedepankan pertimbangan keragaman informasi yang lebih variatif selain alasan kecepatan informasi serta anggapan media sosial lebih bebas dari kepentingan pemilik media layaknya media konvensional seperti media televisi.

Vitalnya peran media sosial tentu harus disadari oleh para kandidat. Media sebagai saluran untuk menanamkan image, kesan ataupun citra yang positif menjadi modal untuk memenangkan persepsi di benak pemilih muda. Maka jargon jargon yang ringan, mudah dicerna namun melekat dalam benak calon pemilih itu menjadi cara unik untuk memenangkan persepsi . Maka, tak heran istilah seperti pemimpin gemoy; #amininajadulu atau singkatan singkatan seperti Gama adalah pesan dan kesan yang sengaja diciptakan agar mudah diingat di benak calon pemilih. Meski demikian, media sosial juga tidak lepas dari persoalan. Ancaman untuk penyebaran hoax dan informasi palsu menjadi tantangan di masa kampanye. Sehingga kewaspadaan untuk bijak memilah informasi mana yang benar itupun menjadi penting.

Download resources

Download File Latihan

Halaman
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Modul
  • Kontak Kami
Kontak Kami
  • Jl. Siwalankerto 142-144 Surabaya 60236, Indonesia
  • ikom@petra.ac.id
  • +6231 298 3052
Instagram Globe-europe

© Copyright 2022